Inilah Kisah Kakek Sarung Pencabut Nyawa Yang Bikin Heboh Medan

Kakek memakai sarung
Masih Dunia Lain - Kamu tentu masih ingat dengan teror-teror sosok mengerikan di Indonesia seperti suster gepeng, kolor ijo, nenek gayung sampai kakek cangkul. Dan dalam seminggu terakhir, giliran warga Medan yang dibuat heboh dengan teror kakek sarung pencabut nyawa.

Bahkan sebuah pesan berantai pun tersebar di kalangan warga Medan. Dalam pesan itu dituliskan jika sudah ada banyak korban meninggal karena seorang kakek yang lagi mencari tumbal ilmu hitam. Dikabarkan, si kakek itu membawa sarung yang suka datang ke rumah-rumah setiap pagi dini hari, sore dan setelah Maghrib.

Peringatan agar tidak membukakan pintu untuk si kakek yang bisa mengambil nyawa seseorang lewat sarung itu sukses membuat warga merasa diteror. Lantas, darimana awal mula kisah kakek sarung pencabut nyawa itu muncul? Sejatinya, sumber teror yang meresahkan warga Medan itu juga tak diketahui dan tiba-tiba saja menyebar di pesan berantai dan jejaring sosial.

Namun dari berbagai informasi, dipercaya jika teror ini dimulai di kota Binjai dan Medan. Disebutkan jika ada seorang kakek yang menjual kain sarung dengan harga murah sekitar Rp 5.000-10.000. Si kakek tampak begitu menyedihkan agar sang calon pembeli iba dan membeli sarung itu. Anehnya, setiap orang yang membeli sarung itu esok harinya akan meninggal dunia. Rumor berhembus bahwa sarung itu bakal berubah jadi kain kafan dan mengambil nyawa si pembeli lantaran sarung itu adalah tumbal ilmu hitam.

Salah satu pengguna Kaskus dengan akun GinGanGon bercerita bahwa rekannya yang bernama Bayu mengalami hal tersebut. Dari penuturannya, keluarga Bayu didatangi oleh kakek penjual sarung di malam hari. Tapi karena menolak tawaran si kakek dan kakek penjual sarung itu kemudian pergi begitu saja. GinGanGon juga memberikan info bahwa ada yang melihat sosok kakek penjual sarung misterius di kawasan Mencirim, Medan yang dekat dengan kosnya.

Hmm, kamu warga Medan, apakah pernah mengalami teror kakek sarung pencabut nyawa?